Tak ada salahnya memulai sesuatu yang inshaAllah baik dengan yang baik pula... Bissmillahirrahmaanirrahiim.. Inilah salah satu catatan yang biasanya hanya mampir di kepala, yang akhirnya hilang karena tidak tertuang dalam tulisan. Beberapa hari yang lalu sampai dengan beberapa jam yang lalu, hati selalu diliputi perasaan gembira, senang, riang dan ceria. Entah hanya karena kege-eran atau memang karena kepe-dean. Tapi hanya beberapa saat yang lalu, semua keceriaan tadi pelan-pelan terganti dengan rasa khawatir dan takut. Teringat sebuah dialog di dalam sebuah film yang membahas tentang filosofi pasir hisap. Pasir hisap, terdengar menakutkan. Pemeran utama dalam film tersebut menjelaskan filosofi dari pasir hisap itu bahwa terkadang kita lupa bahwa sebenarnya keadaan di sekeliling kita tidak seperti yang terlihat. Kadang kita merasa bahwa keadaan sekeliling kita baik-baik saja. Kita menikmati waktu yang ada tanpa berpikir apakah semuanya benar-benar baik-baik saja. Padahal tid...
Tahun 2002 Aku masih merekam dengan jelas kejadian beberapa tahun lalu ketika aku masih di sekolah menengah pertama. Aku mendapati ibu di kamar sendiri, menangis, kesakitan. Tidak tahu kenapa. Aku menangis karena tak bisa berbuat apa-apa. Aku kemudian berlari ke kamar meraih mushaf dan membacanya sambil menangis. Berharap ibu tidak apa-apa. Tahun 2008 Pulang dari Bandung, tanggal 14 Juni 2008. Berharap kabar baik dari sekolah tentang kelulusan. Tapi lagi-lagi tangis yang kuberikan pada ibu. aku gagal lulus ujian nasional. Aku sempat tak bisa tidur selama dua hari. Tahun 2011 Hasil semester 5 sudah keluar. IP semester lima terjun bebas menjadi 1.61. IP terkecil sepanjang selama kuliah. Ibu menangis lagi. Aku marah. Tak tahu marah pada siapa. Aku berangkat ke Jakarta lagi dengan masih membawa kemarahan. Pada diri sendiri. Mungkin. Akhir tahun 2012 dan awal tahun 2013 Ketika mengobrol di telepon, ibu menangis lagi. Katanya kangen sekali dengan anak pertamanya ini. Ibu baru s...
//rindu// Ketika hela terlalu panjang. Atau ketika jarak terlalu jauh. Glasgow, 1 Rajab 1439 H. Musim dingin. Aku masih memandangi layar monitor yang menunjukkan si Fatih sedang berusaha muraja’ah hafalan An Naba-nya dari surel yang kamu kirim. Karena targetnya ketika masuk SD nanti dia sudah harus menguasai juz 30. Aku tersenyum sendiri. Hafalannya sudah cukup bagus. Namun, makhraj-nya masih ada yang kurang tepat. Maklum, baru tiga tahun. Kemudian kamera mengarah ke arahmu. Wajah yang teduh namun menguatkan. Wajahmu yang dulu ketika aku selesai mengucap ijab qabul, dihiasi titik-titik air di sudut matanya, sambil bibir yang tak berhenti mengucap tahmid dan istighfar karena mitsaqan ghalidha sudah terikrarkan. Wajah yang selalu sumringah, bagaimanapun keadaan kita. Kamu masih ingat ketika tahun pertama kita menikah? Ketika kau baru saja mengandung si Fatih. Saat itu aku masih bekerja sebagai guru bimbel dan waktu itu kamu minta dicarikan mangga muda tengah malam. Ak...
Comments
Post a Comment