Posts

Showing posts with the label literature

Live and Die On This Day

Once more into the fray... Into the last good fight I'll ever know Live and die on this day... Live and die on this day.

waktu

waktu terpasung, diam tak mau bergerak. aku bingung. tak bisa kubujuk lagi ia. ia marah. aku tak diindahkannya. aku marah. kubanting saja arlojiku. berpuing jadinya. tetap saja waktu beku. aku bodoh. aku sendiri. bodoh.

Rindu

Rindu debu2 itu.. Rindu terik itu.. Rindu angin itu.. Rindu titik2 embun itu.. Rindu jalan stapak dan rumput2 itu.. Rindu dinginmu.. Rindu subuh-Mu.. Rindu belaian-Mu.. Rindu hangat-Mu.. Rindu tawa kita.. Ku kan berlari meraih-Mu.. Dan Kau kan melesat mendekatiku!

Getar Suara dari Seberang

Telah lama kiranya tak jumpa wujudnya Hanya getar suara... Telah lama kiranya tak mencium tangannya Hanya getar suara... Tapi begitu dahsyat, sungguh! Hanya cukup getar suaramu, mampu membangkitkan rasa hidupku! Sungguh Hanya getar suara... Cisarua, 7 November 2009

Bukan kami kamu mereka tapi kita.

Takut Khawatir Melambat Berhenti Mati Palsu Bertopeng Hipokrit diam menjadi bodoh akhirnya pun mati jua! menggenang bak air comberan, busuk, bau, kotor! Najis! hina dina acuh kita. pergi lari sembunyi tak berani. padahal lihat dan menyaksi tapi pun bergeming. malulah.. malulah.. malulah pada Sang Pencipta!

Alisan

Alisan! Drizzled    The obscure lights on terrace of the house of inhabitants         Shading             Desolated mouths                 Talking hearts All by themselves The damp street pinned down by the drizzles and the lights of vehicles           The orange Alisan shirt became the resolution           The orange Alisan shirt disentangled the solitude...

diam sajalah, biar tenang

jauh.. semakin jauh tertinggal.. diam sajalah, biar tenang hilang semakin dalam ke dalam.. diam sajalah biar tenang semua bakal balik semua bakal balik semoga aku cukup!

Alin kepada Ikal

Alin kepada Ikal karya: Alin Tamanna Rahmani Lintang lindung selurik tajam di siku rahang, Sang lelaki berpijak apik di batas pandang, Paduka siang mengencingi busur terang di dahinya. Sayang, aku pandir memantra awan-awan. Dari perahu aku menjauhi bumi, urung jelajahi selat surga dalam bilik matamu. Dan tunggulah jika Tuhan runtuhkan pilar rasa yang memagar hati.