Posts

Surat Blog Untuk Guru

Menemui Mak Cik Maryamah binti Zamzami di Belitong Bismillahrirrahmaanirrahiim. Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh Semoga Mak Cik selalu dalam keadaan sehat wal afiat.  Mungkin Mak Cik bingung, gerangan siapakah aku ini dan perkara apa sampai perlulah Mak Cik dikirimi surat pula. Sebelumnya, perkenalkan Mak Cik, Namaku Yusuf Fauzi Ahsani, pemuda 25 tahun yang tinggal di Jakarta. Mengenai keperluan surat menyurat ini akan kucoba jelaskan sedikit. Jadi begini Mak Cik, tanggal 25 November adalah peringatan Hari Guru Nasional. Dan pada hari ini, Komunitas Blogger UNJ memilih tema Surat Blog Untuk Guru. Nah, apa pula Komunitas Bolgger UNJ ini? Mak Cik tentu bertanya-tanya. Komunitas Blogger UNJ atau biasa disebut KOMBUN untuk singkatnya ini adalah sekumpulan pemuda (dan pemudi, bahkan lebih banyak pemudinya kalau aku tidak salah) yang memiliki kesukaan menulis. Terutama menulis di wadah Blog ini Mak Cik. Apalah Blog itu? Mak Cik tentu sudah tahu internet buka...
I swear my dear son, no one in the entire world is as precious as you are. Look at that mirror. Take a good look at yourself. Who else is there above and beyond you? Now give yourself a kiss and with sweet whispers fill your ears to the brim. Watch for all that beauty reflecting from you and sing a love song to your existence. You can never overdo praising your own soul. You can never over-pamper your heart. You are both the father and the son, the sugar and the sugar cane. Who else but you? Please tell me who else can ever take your place? Now give yourself a smile. What is the worth of a diamond if it doesn’t shine? How can I ever put a price on the diamond that you are? - Rumi

Orang tua, barang bawaan dan perasaan terhubung.

Seringkali saya sebal jika Ibu membawakan bermacam barang bawaan dari mulai kopi, beras, makanan bahkan ikan asin dan sambal kacang ketika saya mudik balik. Repot sekali bawanya. Sering saya sampaikan ke Ibu untuk tak perlu repot-repot menyiapkan segala hal ketika saya mau berangkat ke Jakarta. Saya sudah besar dan bisa cari sendiri di sana. Tapi selalu raut muka Ibu berubah ketika saya bilang begitu. Ada sedikit kesedihan di sana. Ibu pasti sudah tahu anaknya sudah bisa cari uang sendiri, bisa mengurus dirinya sendiri, tapi tetap saja Ibu bersikeras untuk memberi barang-barang yang ada di rumah. Setelah sekian lama baru saya sadar. Ibu bukan mau memanjakan atau sengaja bikin repot anaknya. Ibu hanya ingin terus terhubung dengan anaknya walaupun anaknya jauh darinya. Dari barang-barang bawaan tadi, Ibu mencoba menghadirkan dirinya. Agar setiap kali anaknya makan ikan asin dan sambal kacang buatannya, dia akan teringat Ibunya. Agar anaknya ingat, bahwa Ibunya selalu mendoakan yang ter...

Sabar dan Syukur.

Kemarin selepas shalat dzuhur ada bapak bapak penjual ikat pinggang. Karena sedang butuh ikat pinggang baru, saya hampiri si bapak dan bertanya berapa harga satu ikat pinggangnya. Beliau jawab harganya beda beda, tergantung yang dipilih. Setelah pilih pilih, saya ambil sebuah ikat pinggang. Harganya tiga puluh lima ribu rupiah. Setelah menambah lubang pada ikat pingganya, saya bayar si bapak dengan uang lima puluh ribuan. Kemudian beliau menjabat tangan saya seraya berterima kasih. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari transaksi jual beli itu. Tapi saya menangkap sesuatu yang menarik dari si bapak, ekspresi wajahnya. Dari semenjak saya sapa selepas shalat dzuhur, mukanya sumringah, senyumnya ramah. Yang lebih jelas adalah ketika saya selesai membayar uang untuk ikat pinggang yang saya beli dan ketika beliau menjabat tangan saya, wajahnya lebih sumringah. Saya menerjemahkannya sebagai wajah bersyukur. Iya, wajah penuh syukur. Sumringah, teduh. Tak lupa juga bibir beliau yang berucap...
Erik beberapa waktu lalu menulis di status facebooknya yang kurang lebih isinya begini: "Belum bisa cari duit sendiri aja udah lupa sama mama. Udah dua minggu ga ngasih kabar. Lha gimana nanti kalo udah bisa cari duit sendiri?" Membaca ini semacam tertampar dengan sangat kuat. Aku durhaka sekali. Berpikir kalau semua yang sudah kudapati sekarang semata karena kerja kerasku saja. Tanpa campur tangan doa dan kerja keras Ibu Bapak di rumah sana. Padahal aku pun baru cuma bisa jadi pegawai freelance yang penghasilannya tidak tetap setiap bulan. Lembutkanlah hati hamba, Ya Allah. Jauhkan hamba dari kedurhakaan terhadap kedua orang tua.
I think I'm gonna need a reinforcement this time.

Sometimes, something doesn't need to be understood.

Kaki yang menjejak pasir pantai tak mengerti mengapa pantai selalu setia menemani ombak. Tapi kaki bisa merasakan sentuhan lembut yang membuat ombak selalu mau datang kembali. Itu mungkin yang disebut rindu. Atau bisa jadi bukan. Bisa jadi itu sesuatu yang tak seorang pun tahu namanya. Tak seorang pun mengerti dan mengenalnya. Tapi mereka dapat merasakannya. Memang, banyak sekali di alam semesta ini yang kita tak pernah tahu namanya, tapi kita merasakan keberadaanya. Seperti hembusan napas ini. Meski sering terlupa, ia ada disana. Menemani sudut-sudut terkecil paru kita. Kita juga tak pernah mengerti perkara paru dan hembusan napas ini. Tapi sekali lagi, tanpa bisa dipungkiri, kita bisa merasakannya. Kita ini memang bodoh. Tapi biarlah seperti itu. Asalkan kita masih bisa merasa. Karena sesekali, sesuatu tak perlu dipahami. Cukuplah dirasakan.