Posts

Ketika melihat diri sendiri dan bertanya, "Apakah saya sudah pantas untuk menjadi seorang suami?" jawaban jujurnya adalah belum. Lantas, kenapa berani untuk meminta orang tua untuk melamarkan anak kesayangan dari sebuah keluarga? Dulu, jawabannya naif sekali, karena kalau menunggu siap dulu saya (mungkin) tak akan pernah jadi menikah. Karena kalau setelah melamar saya akan jadi lebih baik. Karena setelah melamar saya akan berubah. Pertanyaan selanjutnya, sudahkah jawaban-jawaban tadi menjadi nyata? Jawaban jujurnya adalah belum. Shalat berjamaah saya masih bolong-bolong, tak jarang shalatnya di akhir waktu. Saya masih menunda-nunda sesuatu yang mestinya segera diselesaikan. Saya masih pengecut menghindari masalah yang juga butuh diselesaikan segera. Saya masih belum bisa menabung penghasilan saya karena manajemen keuangan saya masih sangat buruk. Pengetahuan agama saya tak bertambah secara signifikan, intinya jika dinilai dengan jujur, saya masih belum serius untuk menyiapkan...

Hati-hati

Berbahaya sekali orang yang lalai akan komitmennya atau sengaja atas dorongan keinginan sesaat mengorbankan komitmen yang telah disepakati baik dengan diri sendri maupun bersama orang lain. Berbaya sekali menganggap enteng komitmen dan berpikir komitmen itu hal yang murah yang bisa dibeli kembali dengan kata maaf yang juga murah ketika sudah dilanggar. Harusnya sadar bahwa komitmen itu bakal ditagih pertanggungjawabannya kelak. Dan tak ada yang bisa mengelak. Berhati-hatilah menjaga komitmen.

Alhamdulillah.

In the journey of our life, some people may cross path with ours. At that moment, we know we learned something from them. We have to thank them. I thank them. I thank God.

Renjana.

//rindu// Ketika hela terlalu panjang. Atau ketika jarak terlalu jauh. Glasgow, 1 Rajab 1439 H. Musim dingin. Aku masih memandangi layar monitor yang menunjukkan si Fatih sedang berusaha muraja’ah hafalan An Naba-nya dari surel yang kamu kirim. Karena targetnya ketika masuk SD nanti dia sudah harus menguasai juz 30. Aku tersenyum sendiri. Hafalannya sudah cukup bagus. Namun, makhraj-nya masih ada yang kurang tepat. Maklum, baru tiga tahun. Kemudian kamera mengarah ke arahmu. Wajah yang teduh namun menguatkan. Wajahmu yang dulu ketika aku selesai mengucap ijab qabul, dihiasi titik-titik air di sudut matanya, sambil bibir yang tak berhenti mengucap tahmid dan istighfar karena mitsaqan ghalidha sudah terikrarkan. Wajah yang selalu sumringah, bagaimanapun keadaan kita. Kamu masih ingat ketika tahun pertama kita menikah? Ketika kau baru saja mengandung si Fatih. Saat itu aku masih bekerja sebagai guru bimbel dan waktu itu kamu minta dicarikan mangga muda tengah malam. Ak...

Jadi berani, jadilah anak kecil.

Salah satu hal yang membuat hidup kita menderita adalah ketakutan. Ketakutan akan perasaan kecewa, ketakutan akan rasa sakit, ketakutan akan harga diri yang terendahkan, ketakutan akan sesuatu yang tak kita pahami seperti masa depan dan ketakutan-ketakutan lainnya. Betapa tidak menyenangkannya hidup dalam ketakutan. Semua terasa sempit. Sesak. Karena ketakutan tadi, sebagian dari kita memilih untuk lari menghindar. Banyak cara dilakukan untuk menghindari ketakutan tadi. Ada yang menyingkir dari keramaian. Ada yang menghindari dari 'terlihat', stay below the radar. Karena jika mulai naik ke permukaan, orang-orang akan mulai percaya padanya, menaruh harapan padanya. Dan ketakutan akan lahirnya kekecewaan pun muncul. Maka ia memilih to stay below the radar. So that nobody will be disappointed.   Untuk keluar dari rasa takut ini kita sepertinya mesti belajar pada anak kecil. Ingatkah dulu ketika kita sangat penasaran dengan nyala lilin dan berusaha menyentuh lidah apinya. Oran...

Surat Blog Untuk Guru

Menemui Mak Cik Maryamah binti Zamzami di Belitong Bismillahrirrahmaanirrahiim. Assalaamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh Semoga Mak Cik selalu dalam keadaan sehat wal afiat.  Mungkin Mak Cik bingung, gerangan siapakah aku ini dan perkara apa sampai perlulah Mak Cik dikirimi surat pula. Sebelumnya, perkenalkan Mak Cik, Namaku Yusuf Fauzi Ahsani, pemuda 25 tahun yang tinggal di Jakarta. Mengenai keperluan surat menyurat ini akan kucoba jelaskan sedikit. Jadi begini Mak Cik, tanggal 25 November adalah peringatan Hari Guru Nasional. Dan pada hari ini, Komunitas Blogger UNJ memilih tema Surat Blog Untuk Guru. Nah, apa pula Komunitas Bolgger UNJ ini? Mak Cik tentu bertanya-tanya. Komunitas Blogger UNJ atau biasa disebut KOMBUN untuk singkatnya ini adalah sekumpulan pemuda (dan pemudi, bahkan lebih banyak pemudinya kalau aku tidak salah) yang memiliki kesukaan menulis. Terutama menulis di wadah Blog ini Mak Cik. Apalah Blog itu? Mak Cik tentu sudah tahu internet buka...
I swear my dear son, no one in the entire world is as precious as you are. Look at that mirror. Take a good look at yourself. Who else is there above and beyond you? Now give yourself a kiss and with sweet whispers fill your ears to the brim. Watch for all that beauty reflecting from you and sing a love song to your existence. You can never overdo praising your own soul. You can never over-pamper your heart. You are both the father and the son, the sugar and the sugar cane. Who else but you? Please tell me who else can ever take your place? Now give yourself a smile. What is the worth of a diamond if it doesn’t shine? How can I ever put a price on the diamond that you are? - Rumi

Orang tua, barang bawaan dan perasaan terhubung.

Seringkali saya sebal jika Ibu membawakan bermacam barang bawaan dari mulai kopi, beras, makanan bahkan ikan asin dan sambal kacang ketika saya mudik balik. Repot sekali bawanya. Sering saya sampaikan ke Ibu untuk tak perlu repot-repot menyiapkan segala hal ketika saya mau berangkat ke Jakarta. Saya sudah besar dan bisa cari sendiri di sana. Tapi selalu raut muka Ibu berubah ketika saya bilang begitu. Ada sedikit kesedihan di sana. Ibu pasti sudah tahu anaknya sudah bisa cari uang sendiri, bisa mengurus dirinya sendiri, tapi tetap saja Ibu bersikeras untuk memberi barang-barang yang ada di rumah. Setelah sekian lama baru saya sadar. Ibu bukan mau memanjakan atau sengaja bikin repot anaknya. Ibu hanya ingin terus terhubung dengan anaknya walaupun anaknya jauh darinya. Dari barang-barang bawaan tadi, Ibu mencoba menghadirkan dirinya. Agar setiap kali anaknya makan ikan asin dan sambal kacang buatannya, dia akan teringat Ibunya. Agar anaknya ingat, bahwa Ibunya selalu mendoakan yang ter...

Sabar dan Syukur.

Kemarin selepas shalat dzuhur ada bapak bapak penjual ikat pinggang. Karena sedang butuh ikat pinggang baru, saya hampiri si bapak dan bertanya berapa harga satu ikat pinggangnya. Beliau jawab harganya beda beda, tergantung yang dipilih. Setelah pilih pilih, saya ambil sebuah ikat pinggang. Harganya tiga puluh lima ribu rupiah. Setelah menambah lubang pada ikat pingganya, saya bayar si bapak dengan uang lima puluh ribuan. Kemudian beliau menjabat tangan saya seraya berterima kasih. Sebenarnya tak ada yang istimewa dari transaksi jual beli itu. Tapi saya menangkap sesuatu yang menarik dari si bapak, ekspresi wajahnya. Dari semenjak saya sapa selepas shalat dzuhur, mukanya sumringah, senyumnya ramah. Yang lebih jelas adalah ketika saya selesai membayar uang untuk ikat pinggang yang saya beli dan ketika beliau menjabat tangan saya, wajahnya lebih sumringah. Saya menerjemahkannya sebagai wajah bersyukur. Iya, wajah penuh syukur. Sumringah, teduh. Tak lupa juga bibir beliau yang berucap...
Erik beberapa waktu lalu menulis di status facebooknya yang kurang lebih isinya begini: "Belum bisa cari duit sendiri aja udah lupa sama mama. Udah dua minggu ga ngasih kabar. Lha gimana nanti kalo udah bisa cari duit sendiri?" Membaca ini semacam tertampar dengan sangat kuat. Aku durhaka sekali. Berpikir kalau semua yang sudah kudapati sekarang semata karena kerja kerasku saja. Tanpa campur tangan doa dan kerja keras Ibu Bapak di rumah sana. Padahal aku pun baru cuma bisa jadi pegawai freelance yang penghasilannya tidak tetap setiap bulan. Lembutkanlah hati hamba, Ya Allah. Jauhkan hamba dari kedurhakaan terhadap kedua orang tua.
I think I'm gonna need a reinforcement this time.

Sometimes, something doesn't need to be understood.

Kaki yang menjejak pasir pantai tak mengerti mengapa pantai selalu setia menemani ombak. Tapi kaki bisa merasakan sentuhan lembut yang membuat ombak selalu mau datang kembali. Itu mungkin yang disebut rindu. Atau bisa jadi bukan. Bisa jadi itu sesuatu yang tak seorang pun tahu namanya. Tak seorang pun mengerti dan mengenalnya. Tapi mereka dapat merasakannya. Memang, banyak sekali di alam semesta ini yang kita tak pernah tahu namanya, tapi kita merasakan keberadaanya. Seperti hembusan napas ini. Meski sering terlupa, ia ada disana. Menemani sudut-sudut terkecil paru kita. Kita juga tak pernah mengerti perkara paru dan hembusan napas ini. Tapi sekali lagi, tanpa bisa dipungkiri, kita bisa merasakannya. Kita ini memang bodoh. Tapi biarlah seperti itu. Asalkan kita masih bisa merasa. Karena sesekali, sesuatu tak perlu dipahami. Cukuplah dirasakan. 

Pergi

Kang Fajar benar, kita dulu mungkin sangat lemah sampai kita takut ditinggalkan. Kita berharap semuanya terus sama. Tak ada yang berubah. Tapi siapa yang bisa menolak takdir. Orang – orang yang kita cintai pun akhirnya pergi. Kita ditinggalkan sendiri. Kita menangis, semalaman. Mungkin lebih. Mungkin sampai kita berfikir air mata kita kering karena menangis saking sedihnya. Karena memang, ketika kita ditinggalkan orang yang kita sayangi, orang yang pernah menghuni ruang dalam lubuk hati, terasa ada yang kosong. Terasa berlubang. Kita lesu. Kita sendu. Namun, seiring berjalannya waktu, lambat laun kita belajar. Belajar mengerti bahwa semua orang tak ditakdirkan untuk selamanya ada di kehidupan kita. Bahwa satu per satu dari mereka akan pergi. Atau kalau tidak, kita yang akan meninggalkan mereka. Kemudian kita mengerti, kepergian mereka seharusnya tak membuat kita lemah. Mereka, yang telah pergi, mengajarkan bahwa hidup itu harus kuat. Bagaimanapun keadaannya. Bahwa keluh hanya berujung...
Tak ada orang yang pantas dibandingkan dengan diri kita. Tak ada. Hanya diri kita sendiri yang pantas dibandingkan dengan diri kita. Diri kita yang dulu dengan diri kita yang sekarang.
akhirnya ngantuk jugak. good night and good morning everyone. :)))
Se-enggak asik apapun bulan April ini, tetep harus bersyukur. Seenggaknya gue waktu tidur ga kuatir ketimpah mortir atau tempat tinggal gue tiba-tiba dihajar buldozer. Sekali lagi, se-enggak asik apapun bulan April ini.
"Jika doamu untuk bersanding dengan seseorang gagal, bisa jadi itu karena ada orang lain yang mendoakanmu di keheningan malam agar menikah dan bersanding dengannya.." tumblr bang wahyu awaludin
Maaf.
Noel, kangen. Udah 5 tahun ya. Ga kerasa. terakhir berkunjung ke tempatmu lebaran 2010. Empat tahun yang lalu. Kabar ibu, bapak, mas Widi, mbak Rica gimana ya sekarang? Kata mbak Rica, ibu, bapak udah pindah lagi ya ke Kalirejo. Semakin jauh dong kamu sama mereka. Nanti kamu jarang dijenguk. Lebaran kemarin ada yang dateng ga? Ibu, Bapak? Mbak Rica Mas Widi? Atau temen temen yang lain? Oia, mungkin kamu blm tahu ya? Setahun abis kelulusanku, si Opick adekku juga ikutan ga lulus UN. haha. Tapi sekarang udah garap sekripsi di UNILA ambil jurusan sejarah. Oia, bulan ini Noe sama Sukma juga ngadepin UN. Semoga Allah mudahkan dan teguhkan niat mereka buat lulus dengan sportif. Inget mereka kan? Dulu masih SMP si Noe, kalau si Sukma masih SD terakhir ketemu kamu. Kiki sekarang udah kelas 2 SD. Dan tahu ga? SDnya kayak SD Laskar Pelangi. Cuma 11 orang muridnya. Kasihan si Kiki. Tapi alhamdulillah dia semangat belajarnya, ya walaupun ga sepandai kakak kakaknya yang lain. Dia masih belum la...
Sudah April. Beberapa kontrak kerja akan segera berakhir. Artinya harus dapat kerjaan lain dalam waktu dekat. Biar bisa nabung buat bayar kuliah semester depan. Iya, semester depan. Nambah lagi. Harus nambah satu semester lagi. Kenapa harus molor satu semester lagi? Karena banyak excuse. Itu aja. Hidup, memang, kalau kebanyakan excuse ya enggak bakal kemana mana. Jalan di tempat aja. Seharusnya gampang: komunikasi sama dosen, minta pertimbangan judul, mulai penelitian, mulai ngetik ngetik, mulai baca baca, mulai beres beres, mulai mulai. Mulai.