Posts

Erik beberapa waktu lalu menulis di status facebooknya yang kurang lebih isinya begini: "Belum bisa cari duit sendiri aja udah lupa sama mama. Udah dua minggu ga ngasih kabar. Lha gimana nanti kalo udah bisa cari duit sendiri?" Membaca ini semacam tertampar dengan sangat kuat. Aku durhaka sekali. Berpikir kalau semua yang sudah kudapati sekarang semata karena kerja kerasku saja. Tanpa campur tangan doa dan kerja keras Ibu Bapak di rumah sana. Padahal aku pun baru cuma bisa jadi pegawai freelance yang penghasilannya tidak tetap setiap bulan. Lembutkanlah hati hamba, Ya Allah. Jauhkan hamba dari kedurhakaan terhadap kedua orang tua.
I think I'm gonna need a reinforcement this time.

Sometimes, something doesn't need to be understood.

Kaki yang menjejak pasir pantai tak mengerti mengapa pantai selalu setia menemani ombak. Tapi kaki bisa merasakan sentuhan lembut yang membuat ombak selalu mau datang kembali. Itu mungkin yang disebut rindu. Atau bisa jadi bukan. Bisa jadi itu sesuatu yang tak seorang pun tahu namanya. Tak seorang pun mengerti dan mengenalnya. Tapi mereka dapat merasakannya. Memang, banyak sekali di alam semesta ini yang kita tak pernah tahu namanya, tapi kita merasakan keberadaanya. Seperti hembusan napas ini. Meski sering terlupa, ia ada disana. Menemani sudut-sudut terkecil paru kita. Kita juga tak pernah mengerti perkara paru dan hembusan napas ini. Tapi sekali lagi, tanpa bisa dipungkiri, kita bisa merasakannya. Kita ini memang bodoh. Tapi biarlah seperti itu. Asalkan kita masih bisa merasa. Karena sesekali, sesuatu tak perlu dipahami. Cukuplah dirasakan. 

Pergi

Kang Fajar benar, kita dulu mungkin sangat lemah sampai kita takut ditinggalkan. Kita berharap semuanya terus sama. Tak ada yang berubah. Tapi siapa yang bisa menolak takdir. Orang – orang yang kita cintai pun akhirnya pergi. Kita ditinggalkan sendiri. Kita menangis, semalaman. Mungkin lebih. Mungkin sampai kita berfikir air mata kita kering karena menangis saking sedihnya. Karena memang, ketika kita ditinggalkan orang yang kita sayangi, orang yang pernah menghuni ruang dalam lubuk hati, terasa ada yang kosong. Terasa berlubang. Kita lesu. Kita sendu. Namun, seiring berjalannya waktu, lambat laun kita belajar. Belajar mengerti bahwa semua orang tak ditakdirkan untuk selamanya ada di kehidupan kita. Bahwa satu per satu dari mereka akan pergi. Atau kalau tidak, kita yang akan meninggalkan mereka. Kemudian kita mengerti, kepergian mereka seharusnya tak membuat kita lemah. Mereka, yang telah pergi, mengajarkan bahwa hidup itu harus kuat. Bagaimanapun keadaannya. Bahwa keluh hanya berujung...
Tak ada orang yang pantas dibandingkan dengan diri kita. Tak ada. Hanya diri kita sendiri yang pantas dibandingkan dengan diri kita. Diri kita yang dulu dengan diri kita yang sekarang.
akhirnya ngantuk jugak. good night and good morning everyone. :)))
Se-enggak asik apapun bulan April ini, tetep harus bersyukur. Seenggaknya gue waktu tidur ga kuatir ketimpah mortir atau tempat tinggal gue tiba-tiba dihajar buldozer. Sekali lagi, se-enggak asik apapun bulan April ini.